Home    

Tantangan Psikologis Guru

Kalau berbicara pendidikan pasti tak akan pernah luput dari masalah guru. Pendidik merupakan faktor dominan dalam proses pendidikan dan instrumen yang sangat penting dalam proses belajar mengajar. Guru merupakan sumber daya edukatif dan aktor utama dalam proses pendidikan. Hal yang menjadi permasalahan, guru bukanlah pekerjaan biasa, namun sangat luar biasa yang tidak bisa digantikan orang lain walaupun perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi terutama teknologi pembelajaran begitu pesat.

Profesi guru tidak sekadar mengajar di sekolah, tetapi juga mendidik. Bahkan mendidik pun tidak hanya sebatas di sekolah, melainkan juga di luar sekolah. Saatini seringkali guru hanya melaksanakan tugasnya sebagai pengajar saja dan melupakan, bahwa guru juga harus mendidik. Sebab, guru hanya mengejar target matefi-materi kurikulum. Oleh karena itu, peran guru sebagai sumber daya edukatif harus meningkatkan kompetensi profesionalisme yang lebih tinggi walaupun perkembangan teknologi berkembang pesat. Perkembangan tersebut harus dijadikan tantangan untuk lebih baik.

Salah satu kelemahan utama pendidikan kita adalah tidak membangun kesadaran kritis siswa dalam belajar. Kita lebih banyak menjejalkan pengetahuan ke dalam otak siswa atau transfer knowledge lanpa mau tahu apakah pengetahuan yang kita berikan diserap dengan baik atau tidak karena kita hanya menuntut mereka meng-hafalkan apa yang kita berikan. Tidak heran kalau siswa sering kali menjawab itidak tahuT jika guru bertanya sesu-
Oleh Agung Nugroho
atu yang baru saja diajarkan kepada mereka.

Dalam Taxonomi Bloom tingkat belajar yang paling rendah menghafal dan ini sudah menjadi pola belajar siswa kita. Bagaimana mungkin otak mereka mampu menyerap secara mendalam ilmu pengetahuan yang kita berikan karena terlalu banyaknya bahan pelajaran yang kita berikan kepada mereka, sehingga pengetahuan itu tidak sempat mengendap dan dicerna dengan baik.

Dengan demikian, sebaiknya guru tidak hanya transfer kepada peserta didik tentang ilmu pengetahuan saja, tetapi juga harus mendidik untuk membentuk kepribadian, karakter dan mengembangkan potensi peserta didik (transfer attitudes and value). Tetapi, dalam menjalankan tugasnya seringkali guru harus menanggung beban psikologis.

Ada lima hal yang menjadi beban psikologis guru, pertama, tugas-tugas berat dan kompleks yang harus dilaksanakan. Pekerjaan guru tidak hanya mengajar mata pelajaran semata, tetapi tugas-tugas lain seperti membimbing ekstrakurikuler, panitia kegiatan sekolah, menangani siswa yang bermasalah dan membuat administrasi KBM menjadi tugas rutin yang harus di-lakukan oleh guru. Kedua, tanggung jawab yang dipkul-nya. Amanah orangtua kepada guru untuk mendidik dan mencerdaskan anaknya menjadikan seorang guru menjadi tidak main-main dalam mengajar dan mendidik siswa. Karena apabila ada siswa yang nakal dan nilai
jelek, guru yang disalahkan, sudahkan guru melaksanakan pembelajaran dengan baik?.

Ketiga, kemampuan yang terbatas. Menjadi guru harus mampu melaksanakan tugasnya dengan baik dan tanpa salah sesuai tugas pokok dan fungsinya (Tupoksi). Terutama yang menjadi beban adalah kemampuan guru dalam memanfaatkan teknologi informasi dan inovasi dalam pembelajaran. Keempat, gaji guru yang masih kedl membuat guru tidak dapat meningkatkan profesionalismenya. Bagamina tidak, gaji yang diterima guru hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup bahkan kadang masih kurang, sehingga guru harus InyambiT atau bekerja sampingan untuk menutup kebutuhan hidupnya. Kelima, berhubungan dengan perilaku peserta didik, Ketika anak didik mulai digerogoti racun narkoba, pergaulan bebas dan perilaku menyimpang lainnya, guru harus tampil sebagai penyelamat.

Atas dasar itu, sekolah perlu mengembangkan pembinaan guru secara orang per orang (individualized) dan bersifat pendekatan pribadi {personalized approach) untuk memenuhi kebutuhan masing-masing guru dalam rangka mendidik dan mencerdaskan bangsa. Sejatinya, guru dan tenaga pendidikan memerlukan otonomi khusus untuk berekspresi dalam menuangkan gagasan dan keinginannya, sehingga guru dapat meningkatkan kompetensinya secara profesional dan mengembangkan kariemya. ?- rh *) Penulis: Agung Nugroho, Guru SMKN 3 Wonosari Gunungkidul, Mahasiswa S2 Manajemen Kepengawasan Pendidikan MM UGM.

artikel psikologi guru (40),artikel tentang psikologi guru (10),psikologi guru (10)

Kode Copy Paste
Gunakan kode diatas untuk copy paste artikel ini di blog anda

Tags: didik, gaji, KBM, kelemahan, memenuhi, mendidik, otak, Pendidikan, sekolah, transfer