Home    

Sentra Produksi Mie Soun

Desa Manjung Kecamatan Ngawen Klaten | Sentra Produksi Mie Soun |Desa Manjung di Kecamatan Ngawen Kabupaten Klaten sudah sejak lama dikenal sebagai salah satu sentra penghasil mie soun. Hampir 20 persen dari jumlah penduduknya, mengandalkan hidup dari mie yang berbahan baku dari tepung aren ini. Memasuki musim kemarau ini, sejumlah pengusaha mie soun sedang giat-giatnya melakukan produksi. Dalam sebulan terakhir rata-rata produksi mie soun siap edar di desa tersebut mencapai 17 ton perharinya.

Ketika KR mendatangi desa itu, Kamis (31/5), beberapa pekeija perempuan tengah menjemur mie. Penjemurannya menggunakan papan panjang dari zenk. Pekeija lain-nya tengah mengecek mie yang digantung. Penjemuran biasanya membutuhkan waktu hingga 3 jam sampai Vipnar.Vipnnr kering

Tercatat ada 65 pengusaha mie soun yang tersebar di 10 wilayah di Desa Manjung. Paling banyak terdapat di Dukuh Manjung, Ngaglik, Tegalsari, Dukuh dan Tegalrejo. Sedangkan di Sidomulyo, Tuban Wetan, Jamburejo dan Tuban Kulon hanya ada 1-3 produsen saja. Keberadaan pabrik mie soun ini ternyata mampu menyerap ratusan tena-ga kerja yang didominasi ibu-ibu rumah tangga. Mereka diberi tugas untuk melakukan pengemasan. Bisa dikerjakan di rumah-nya masing-masing atau datang ke produsennya sendiri.

Pemasaran mie ini hampir di seluruh daerah di Provinsi Jawa Timur. Selebihnya hampir merata di Jawa Tbngah. Namun di tengah semangat-semangatnya pengusaha untuk membuat mie soun, mereka justru dihadapi dengan langkanya bahan baku berupa tepung aren dan sagu. Tepung aren didapat dari Kecamatan Tulung Klaten. Di sana tepung aren oleh masyarakat diolah menjadi produk makanan lain, hunkwe. “Sementara untuk tepung sagu didapat dari Pulau Suma-tera,” kata Kades Manjung AB Amanto.

Lebih lanjut Amanto mengungkapkan, pembuatan mie soun memang sangat tergantung dengan cuaca. Kalau panas, dalam sehari bisa mengolah sampai tiga kali proses. Namun kalau cuaca sedang tidak bersaha-hat,, rata-rata perhari hanya mampu memproduksi sekali. Itupun hasilnya kurang bagus karena proses penjemurannya tidak maksimal.

Sedangkan salah satu pengusaha mie soun Antonius Warsono (63) warga Dukuh Tuban Wetan ini hanya melanjutkan usaha dari orangtuanya. Dibantu enam pekeija, dalam sehari dia mampu menghasilkan 2,5-3 kuintal soun siap jual. Menjadi pengusaha sejak tahun 1Hia hanya. mpngjmHfllkan ppkpr-jaan ini untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari bersama istri dan empat anak.

Menurutnya, sekarang ini bahan baku dalam pembuatan soun sudah tidak mumi lagi. Bahan baku utama soun adalah tepung aren. Namun sekarang sudah bercampur menggunakan tepung sagu. Padahal dari segi tampilan dan rasa, jauh lebih nikmat kalau mumi tepung aren. Apalagi kalau dicampur dengan ganyojig akan lebih enak.

“Tapi sekarang untuk mencari ganyong sudah susah. Kalau bahan bakunya mumi tepung aren, tampilannya lebih mengkilat dan kenyal kalau dimakan. Sedangkan yang sekarang, cenderung lebih lunak,” urainya.

Rata-rata pendapatkan dia perbulan menjadi pengusaha mie soun mencapai puluhan juta. Memproduksi mie soun memang tergantung musim. Jika cuaca panas, maka pengusaha bisa meraup keuntungan berlipat. Tapi kalau cuaca tidak bagus, secara otomatis berdampak pada pendapatan.

mie soun (11)

Kode Copy Paste
Gunakan kode diatas untuk copy paste artikel ini di blog anda

Tags: Desa Manjung, Dukuh Manjung, Dukuh Tuban Wetan, Jawa Tbngah, Kecamatan Tulung Klaten, mencapai, mie, mie soun, produksi, produsen, Pulau Suma, rumah, sentra produksi mie, Tuban Wetan