Home    

Selain Hubungan Seksual Jarum Suntik Rawan Tularkan HIV / AIDS

DALAM menangani pasien pengidap HIV/-AIDS, tim medis perlu memperhatikan berbagai hal. Antara lain petugas kesehatan tidak boleh langsung memvonis seseorang mengidap HIV/-AIDS kalau baru sekali menjalani tes pemeriksaan.

“Kepastian positif tertular virus HIV baru bisa dinyatakan apabila pasien sudah menjalani tes darah sebanyak 3 kali di laboratorium,” ujar Ketua Tim Penanggulangan HIV/AIDS RS Panti Rapih Yogyakarta dr Budi Pranowo SpPD di ruang kerjanya beberapa waktu lalu.

Ditambahkan pula identitas pasien pun terjaga kerahasiaannya. Seseorang yang akan memeriksakan diri, bisa mendaftar lewat telepon terlebih dahulu. Sebagai dok-ter spesialis penyakit dalam, tentu saja pasien dr Budi Pranowo kebanyakan memeriksakan diri tentang berbagai penyakit dalam. Hanya sedikit pasien yang datang untuk memeriksakan diri terkait HIV/AIDS.

Tferhadap para pasien HIV/-AIDS, dr Budi menyatakan, kalau hanya bersalaman dengan pasien tidak memakai sarung tangan, tetapi kalau perawat yang menangani pemeriksaan dan perawatan harus menggunakan alat pelindung.

Meskipun tidak menggunakan sarung tangan, namun dokter harus mencuci tangan dengan standar kesehatan dua kali, sabun dan alkohoL Perawat harus menggunakan alat pelindung hidung, mulut, tu-buh, juga tangan. Kalau perawat tertusuk jarum, harus segera diobati untuk menjaga agar tidak tertular penyakit. Virus HTV tidak bisa hidup di luar tubuh manusia. Kalau tercecer di lantai tidak akan hidup. Jadi menurut dr Budi Pranowo, tidak perlu khawatir duduk di tempat duduk bekas pengidap HIV/AIDS, bersalaman dan menggunakan bekas alat minumnya yang sudah dicuci.

Menurut dr Budi Pranowo, jarum merupakan salah satu media penular. Karena itu, sekarang di rumah sakit penggunaan jarum hanya sekali. Dokter seka-rang pun jarang menyuntik kalau tidak perlu sekali. Karena itu pula pecan-du narkoba yang menggunakan jarum suntik bergantian dengan orang lain, besar risikonya tertular virus HIV.

Masih tentang jarum, dr Budi mengingatkan, saat transfusi darah juga bisa men-
jadi media penularan HIV/AIDS. Kemudian perawat yang kena cipratan darah pasien bisa pula tertular kalau tidak menggunakan pelindung. Salon tempat potong-rambut juga sebaiknya hanya menggunakan silet satu kali pakai. Ganti orang, ganti pula siletnya.

Kemudian hubungan seks berganti-ganti pasangan risiko tertular cukup besar. Apalagi kalau tidak menggunakan alat pelindung atau kondom. Ada ibu rumah tangga baik-baik yang tertular HIV/AIDS, ternyata yang menularkan suaminya sendiri melalui hubungan seks. Sebab suaminya telah berhubungan seks dengan wanita lain yang mengidap HIV tanpa menggunakan kondom. Dia tertular kemudian menularkan kepada istri-nya. Wanita hamil yang tertular virus HIV juga berpotensi menularkan ke bayi yang dikandungnya.

Ditegaskan dr Budi Pranowo, seseorang bisa ketahuan kalau dirinya tertular HIV/-AIDS butuh waktu 3 bulan dari saat tertular. Jadi kalau seseorang baru saja mengalami hal-hal yang dicurigai bisa menularkan virus HIV,
baru bisa terdeteksi 3 bulan kemudian. Sedang seseorang yang positif tertular, biasanya terdeteksi dari penyakit tertentu yang diidapnya, seperti TBC, radang otak, radang lidah dain sebagainya. Itu terlihat 4-5 tahun setelah seseorang tertular. ‘Dari situ, dokter lalu merekomendasikan untuk tes laboratorium. Itu pun dokter tidak langsung memvonis sebelum pasien menjalani tes sampai 3 kali,”
kata dr Budi Pranowo.

Soal obat HIV/AIDS, dr Budi Pranowo menyatakan kalau obatnya sekarang sudah ada dan dapat diperoleh gratis. Obat tersebut hanya ada di rumah sakit rujukan HTV/-AIDS termasuk RS Panti Rapih. Tidak ada di apotek dan rumah sakit lain yang bukan rumah sakit rujukan HIV/AIDS.

Soal harapan sembuh, tergantung bagaimana kondisi sel
darah putih, kalau bagus harapan sembuh besar. Karena HIV menyebabkan turunnya keke-balan tubuh maka yang membahayakan justru penyakit lain yang menyerang. Pengidap HIV/AIDS juga tetap masih bisa produktif. Penularan penyakit ini tidak begitu saja, karena virus HIV tidak bisa hidup di luar tubuh manusia. “Jadi masyarakat jangan mengucilkan pengidap HIV/AIDS,” pe-san dr Budi. (Warisman)-c


Kode Copy Paste
Gunakan kode diatas untuk copy paste artikel ini di blog anda

Tags: AIDS, alat, Budi Pranowo, bulan, darah, HIV, narkoba, rumah, rumah sakit, telepon, wanita