Home    

Perubahan Iklim, Mitigasi dan Adaptasi

Bulan Juni mestinya sudah tidak turun hujan, tapi dua hari terakhir ini Yogya di guyur hujan lebat yang beberapa hari sebelumnya la-ngit selalu diselimuti awan. Di beberapa kota, sejak Mei juga masih turun hujan.

Lazimnya iklim musim sangat dipengaruhi angin musiman yang berubah-ubah setiap periode tertentu. Biasanya satu periode perubahan angin 6 bulan, terdiri angin musim barat daya yang bertiup sekitar bulan Oktober hingga April dan ba-sah, sehingga membawa musim hujan, dan angin musim timur laut bertiup April hingga bulan Oktober yang sifatnya kering dan membawa musim kemarau.

Menjelang musim hujan yang biasanya paling besar antara Oktober-Desember hingga Januari-Februari, dan orang beijaga-jaga terhadap kemungkinan terjadinya bencana longsor atau banjir. Tapi jika terjadi perubahan iklim, dan mendadak terjadi hujan deras pada musim kemarau, hal yang tak terduga bisa terjadi.

» Untuk ini salah satu cara mengurangi risiko antara lain penghutanan kembali demi mencegah risiko longsor yang biasanya diawali curah hujan lebat. Tfcrkait hal ini juga perlu ditetapkan zona-zona yang berisiko terhadap banjir dan longsor sekaligus membuat rencana sistem peringatan dini untuk evakuasi.

Semua berharap terjadi hujan deras bulan Juni ini hanya bersifat insi-dentil, bukannya akibat terjadinya perubahan iklim yang sering dipandang sebagai akibat pemanasan global. Meski demikian, kemungkinan terjadinya perubahan iklim harus ja-
di pertimbangan. Laporan dari University College London and The Lancet di London Inggris yang berjudul ‘The Grand Challenge of Global Health’ memperingatkan, perubahan iklim bisa membawa perubahan po-la-pola musim dan perubahan pola sebaran penyakit yang ditengarai akan sering terjadi di masa datang.

Jika benar-benar terjadi perubahan iklim, mau tak mau orang harus beradaptasi. Para pakar lingkungan selama ini menyerukan agar beradaptasi terhadap perubahan iklim melalui perhatian lebih serius terhadap kebersihan lingkungan, menanam pohon di lahan-lahan kosong atau mendukung upaya-upaya pe-merintah dalam meningkatkan pelayanan dasar kesehatan di wilayah tempat permukiman penduduk.

Berdasar kajian United Nation Development Program (UNDP) Indonesia, perubahan iklim di Indonesia berdampak besar terhadap rak-vat miskin, terutama petani dan nelayan, masyarakat yang tinggal di daerah pesisir dan pemukim perkotaan. Perubahan pola curah hujan, kelembaban dan kesuburan tanah akibat perubahan iklim menyebabkan produktivitas pangan menurun, bahkan banyak petani di daerah pesisir gagal panen akibat banjir dan kenaikan permukaan air laut.

Sejak 2007 Indonesia telah berusaha melakukan upaya mitigasi dan adaptasi melalui Rencana Aksi Na-sional Perubahan Iklim ( RAN PI), dimana pemerintah memfokuskan pada tiga bidang prioritas utama, yaitu ketahanan pangan, energi, dan lingkungan hidup dan pengelolaan bencana. Namun upaya adaptasi seluruh warga teramat penting.

artikel tentang gagal panen di indonesia (13)

Kode Copy Paste
Gunakan kode diatas untuk copy paste artikel ini di blog anda

Tags: adaptasi, angin, Januari Februari, kemarau, lingkungan, mitigasi, Oktober Desember, panen, Perubahan Iklim, risiko, tanah