Home    

Makna Jihad

Memahami Makna Jihad | Mantan ketua umum PBNU, KH Hasyim Muzadi, pernah mengatakan Indonesia bukan negeri teroris. Justru Indonesia adalah korban terorisme. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah aksi terorisme melanda negeri yang terkenal cinta damai dan penduduknya ramah ini.

Korban jiwa pun beijatuhan. Atas nama jihad, pelaku atau orang yang berada di belakang aksi terorisme itu melakukan pengeboman yang membidik orang asing (Barat),-kedutaan asing, kantor kepolisian, dan terakhir adalah tempat ibadah, baik milik umat Islam maupun Nasrani.

Apakah tindakan para pelaku pengeboman itu termasuk dalam jihad? Apakah makna jihad?

Apa syarat-syaratnya dan bagaimana seharusnya melakukan jihad? Dan, bagaimanakah urgensi jihad bagi kaum Muslimin?

Tidakkah jihad, khususnya pada masa Rasulullah, para sahabat, tabi’in dan tabi’it tabi’in berarti bahwa Islam disebarkan dengan pedang?

Buku berjudul Konsep Jihad & Toleransi Islam ini, insya Allah menjawab berbagai pertanyaan di atas, dan meluruskan pemahaman umat Islam— yang boleh jadi kurang tepat—tentang konsep jihad dan toleransi Islam.

Penulis mengawali bukunya dengan memaparkan keutamaan jihad di jalan Allah dan jihad adalah puncak dari akhlak dan identitas Islam. Kedudukan yang paling mulia ditempati oleh orang yang selalu siap siaga berjihad di jalan Allah dan bercita-cita mati syahid di medan jihad.

Setelah menjelaskan pensyariatan jihad, penulis memaparkan hukum jihad, syarat kewajiban jihad, hikmah pensyariatan, serta perbedaan jihad dan perang. Jihad disyariatkan dalam Islam dengan dua tujuan, yakni mengamankan dakwah dan memelihara keamanan negara.

Mengutip Ibnu Taimiyah, penulis menegaskan, “Sesungguhnya puncak tujuan jihad adalah agar agama menjadi milik Allah SWT seluruhnya, dan agar kalimat Allah menjadi tetap yang tertinggi, dan siapa pun yang ingin melawan hal ini, dia pasti diperangi dengan Jihad.” (him 29) *

Pada bab-bab berikutnya, penulis memaparkan keutamaan jihad, dan adab jihad.

Setelah itu, persiapan umat untuk jihad, dan penaklukan Islam sebagai hidayah, keadilan, dan rahmat.

Penulis mengemukakan kemuliaan Islam dalam hubungan dengan non-Muslim, toleransi Islam, dan rahmatnya bagi semesta alam. “Islam tidak dapat dipandang melainkan agama yang sangat toleran terhadap para penentangnya dan musuh yang dikalahkan.”

artikel tentang jihad (20),pengertian jihad dan urgensinya (17)

Kode Copy Paste
Gunakan kode diatas untuk copy paste artikel ini di blog anda

Tags: akhlak, hukum, Indonesia, Justru Indonesia, Mengutip Ibnu Taimiyah, PBNU, perang, perbedaan