Home    

Krisis Moneter

Belajar dari Krisis Moneter | Krisis moneter yang terjadi pada tahun 2008 adalah krisis global. Alasannya, krisis yang bermula dari ambruknya bisnis properti di Amerika Serikat itu dengan cepat menjafar ke Eropa dan Asia.

Sejumlah besar negara, utamanya di Asia, mengambil langkah pencegahan terhadap membesarnya dampak krisis moneter tersebut. Salah satu caranya dengan menaikkan penjaminan simpanan nasabah perbankan mencapai 100 persen.

Indonesia sendiri melalui Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menaikkan penjaminan saldo untuk setiap nasabah pada satu bank, dari Rp 100 juta menjadi paling banyak Rp 2 miliar. Tujuan terpenting dari langkah itu yakni menjaga psikologi masyarakat agar tetap merasa aman.

Krisis global itu menjadi salah satu penyebab gagalnya kinerja Bank Century yang kemudian diputuskan untuk diselamatkan oleh Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) pada November 2008.

“Keputusan menyelamatkan bank gagal itu diambil pemerintah untuk menjaga kepercayaan masyarakat. Situasi kuartal keempat 2008 dan kuartal pertama 2009 menunjukkan pasar keuangan dunia jelek sekali. Rupiah sempat menyentuh level Rp 13 ribu. Imbal hasil (yield) Surat Utang Negara (SUN) yang dalam bentuk rupiah, naik dari 9 persen menjadi 20 persen. Rupiahnya memburuk, yield-nya juga memburuk,” kata anggota Dewan Komisioner LPS, Mirza Adityaswara, Kamis (22/9) di Jakarta.

Negara-negara yang menjadi anggota G-20 saat itu bersama-sama melaksanakan pengamanan sistem keuangan. Indonesia melakukannya dengan menyelamatkan bank gagal, menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM), dan menurunkan suku bunga.

Dampak dari semakin banyak negara yang menyelamatkan bank gagal, lanjut Mirza, membuat kondisi pasar keuangan dunia mulai membaik. Hal itu tampak pada bulan Maret hingga April 2009 ketika rupiah mulai mengalami penguatan secara bertahap.

Namun, pada bulan April 2009, Bank Indonesia melikuidasi Bank IFI dan KSSK tidak memutuskan untuk menyelamatkannya. Menurut Mirza, hal itu disebabkan karena situasi krisis saat itu sudah amat berbeda.

“Rupiah sudah menguat, tidak terjadi capital outflow, likuiditas normal, dan tak ada rumor tentang bank-bank yang kesulitan likuiditas,” ujarnya.

Ia menambahkan, langkah penyelamatan bank gagal yang bisa berdampak sistemik, dilakukan untuk tujuan yang lebih besar, yakni menyelamatkan stabilitas sistem keuangan negara.

“Krisis moneter 1997-1998 membesar karena kita menganggap enteng menutup 16 bank kecil. Apa yang terjadi? Kepanikan masyarakat hegitu besar, upalagi saat itu belum ada penjaminan. Akibatnya nasabah di bank-bank besar menjadi khawatir dan terjadilah rush. Untuk itulah kita menghindari kesalahan penilaian seperti 1997,” terang Mirza.

Guna menghindari dampak dari krisis moneter Eropa yang tengah terjadi, pemerintah harus menjadi stimulus dengan mempercepat pembangunan dan bukan menarik dana. Sebab, bila pembangunan dilaksanakan lebih cepat, akan mendorong peningkatan pendapatan masyarakat.

pengertian krisis moneter (57),makalah krisis moneter (26),artikel pengertian krisis moneter (16),artikel ekonomi moneter (15),makalah tentang krisis moneter (14),definisi krisis moneter (13),artikel krisis moneter (13),artikel moneter (12),artikel krisis moneter 1998 (12),penyebab terjadinya krisis moneter di indonesia (10)

Kode Copy Paste
Gunakan kode diatas untuk copy paste artikel ini di blog anda

Tags: Asia, Bank Century, dampak, global, Indonesia, krisis, krisis moneter, KSSK, Lembaga Penjamin Simpanan, moneter, pasar, pemerintah, properti, suku bunga