Home    

Hutang luar negeri Indonesia

Menumpuk Utang
UTANG luar negeri Indonesia terus mengalami peningkatan ta-jam khususnya utang pemerintah. Apabila pada tahun 2006 total pinjaman luar negeri mencapai 132,63 miliar dolar pada tahun 2012 kuartal pertama telah mencapai 221,60 miliar dolar. Dalam rupiah pinjaman Indonesia dalam 3 tahun terakhir tercatat Rp 1.667 triliun (2010), Rp 1.803 triliun (2011) dan Rp 1.937 triliun (2012). Perkembangan utang sedemikian cepat jelas bukan pengelolaan keuangan negara yang baik. Ironisnya, dalam situasi seperti sekarang ini pemerintah masih ingin menambah utang luar negeri sebesar Rp 45 triliun lagi. Pinjaman ini diperuntukkan menghadapi krisis Eropa yang dimungkinkan semakin berbahaya. Benarkah apa yang dijalankan pemerintah tersebut?

Utang luar negeri baik oleh swasta maupun pemerintah memiliki risiko terhadap masyarakat. Pembayaran utang melalui APBN pada dasarnya dibayar oleh masyarakat melalui pajak. Sampai sekarang masyarakat terus menanggung bunga utang obligasi rekapitalisasi perbankan tidak kurang Rp 50 triliun/tahun kepada perbankan.

Seandainya uang tersebut digunakan untuk infrastruktur atau kegiatan produktif yang lain pasti perekonomian Indonesia jauh lebih sehat dari saat ini. Karena utang luar negeri yang tidak terkendali sama artinya mengambil hak-hak generasi mendatang. Anak cucu kita yang tidak tahu menahu harus menanggung beban utang yang dilakukan saat ini.

Sebagian besar krisis keuangan di dunia disebabkan beban utang khususnya utang luar negeri. Dengan alasan apa pun pinjaman khususnya utang luar negeri harus dikendalikan secara ketat, agar tidak menjadi penyakit kronis di kemudian hari. Pinjaman terus meningkat tetapi pelayanan masyarakat tidak mengalami perbaikan, inftastruk-tur tidak semakin baik, pendidikan dan kesehatan justru semakin mahal, hal ini menunjukkan bahwa utang luar negeri kita tidak produktif.

Pinjaman luar neger Indonesia memang dinilai masih aman oleh bank dunia, karena menunjukkan penurunan rasio terhadap pendapatan nasional. Rasio pinjaman luar negeri terhadap pendapatan nasional saat ini diperkirakan sekitar 28,2%. Artinya jumlah utang lebih dari seperempat nilai barang dan jasa yang dihasilkan di Indonesia selama setahun. Ini lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Dan masih lebih baik jika dibandingkan dengan Amerika Serikat (69,4%), Inggris (79,5%) dan Italia (120,1 %).

Apakah berarti aman jika kita terus berutang karena angka-angka rasio menunjukkan penurunan dan jauh lebih rencah dibandingkan beberapa negara maju. Tentu saja tidak! Negara maju saja menghadapi situasi ekonomi tidak menentu akibat utang, apalagi Indonesia. Bahkan harus disadari bahwa perekonomian Indonesia tidak memiliki landasan yang kokoh seperti di negara-negara maju tadi.

Bangsa ini harus memahami jika ekonomi Indonesia tidak memiliki fondasi yang kuat. Bukankah selama ini misalnya kita masih bergantung pada eks-por tambang dan mineral seperti gas dan batu bara, komoditas perkebunan seperti karet, coklat dan kopi, serta ditopang oleh sektor keuangan yang didominasi asing? Di sisi lain, kita tak memiliki sektor industri yang kuat. Artinya perekonomian Indonesia sangat mudah terkoreksi oleh penurunan harga komoditas, menurunnya permintaan luar negeri atau adanya pelarian modal ke luar negeri bahkan penurunan nilai tukar rupiah.

Jika ekonomi kita memang kuat kenapa kita harus mencari pinjaman baru untuk berjaga-jaga menghadapi krisis Eropa? Sebenarnya secara riil kondisi kita tak sebagus yang digam-barkan oleh beberapa indikator makro. Jika tidak hati-hati banjir produk China akan kita hadapi, sebagai pengalihan pasar Eropa yang terus menciut. Pemerintah tidak boleh aji mumpung karena peringkat utang dinaikkan menjadi investment grade oleh beberapa lembaga pemeringkat, kemudian kita rajin berutang. Utang tetap utang yang harus dibayar dikemudian hari.

Pinjaman saat ini sama artinya mengambil hak generasi yang akan datang seperti halnya ko-rupsi mengambil hak orang lain maka harus mulai dikurangi sedini mungkin. Menurut pengalaman proyek-proyek yang dibiayai utang molor dalam pelaksanaan.

Hal ini membawa konsekuensi bahwa kita harus membayar ongkos komitmen terhadap pinjaman yang tidak digunakan. Semakin lama molor sebuah proyek semakin banyak biaya komitmen yang harus ditanggung. Belum lagi berapa banyak utang luar negeri yang dikonjpsi.

Seringkali kita salah kaprah dalam pengelolaan ekonomi. Pada saat booming (masa kemakmuran) pemerintah cende-rung aji mumpung dan utang bertambah, impor bertambah bahkan pemborosan juga meningkat pada saat itu. Sebaliknya pada saat ekonomi nesesi (penurunan) dilakukan penghematan besar-besaran seperti yang terjadi di Yunani saat ini. Seharusnya jalan pikir seperti itu harus dibalik, pada saat ekonomi makmur justru kesempatan mengurangi utang sementara pada saat sulit tidak seharusnya rakyat semakin dicekik. Berhati-hatilah dengan utang sebelum terjerumus ke dalam situasi ‘gali lubang tutup lubang’.
Oleh Suharto MSiĀ (Penulis adalah Ketua Program Studi llmu Ekonomi FE Ull)

utang luar negeri indonesia tahun 2012 (78),penyebab utang luar negeri (61),makalah utang luar negeri indonesia (60),utang luar negeri indonesia 2012 (57),perkembangan utang luar negeri indonesia (55),artikel utang luar negeri (41),cara mengatasi utang luar negeri indonesia (23),artikel utang luar negeri indonesia (23),makalah utang luar negeri (22),artikel tentang utang luar negeri (18),utang luar negeri 2012 (16),penyebab utang luar negeri indonesia (13),makalah tentang Utang Luar Negeri (12),utang luar negeri indonesia (12),makalah tentang utang luar negeri indonesia (11)

Kode Copy Paste
Gunakan kode diatas untuk copy paste artikel ini di blog anda

Tags: APBN, harga, Indonesia, industri, mencapai, Menumpuk Utang, pemerintah, pendapatan, tambang, utang