Home    

Pot vertikal Vertikultur

Menurut Ir. Mulyono Niti-sapto, staf edukatif pada Fakultas Pertanian UGM, jenis pot vertikal – dari bahan ge-rabah, bambu, ataupun paralon – paling cocok untuk menanam sayuran berbatang kedl, misalnya selada, sawi, kol bunga, seledri, atau kangkung. Sebaliknya, untuk menanam terung, tomat, cabai, bawang (merah dan putih), hasilnya terbukti kurang ba-gus, meski boleh-boleh saja ditanam di pot vertikal.

Pot vertikal, menurutnya, punya kelebihan dibandingkan dengan yang lain. “Satu pot vertikal setinggi 2 m saja bisa untuk puluhan tanaman. Apalagi kalau tanamannya kecil-kecil,” ujamya. Tapi, dalam hal pendangiran pot horizontal dan pot biasa yang digantung memang lebih menguntung-
kan.

Tinggi pot vertikal paling ideal ± 1,5 m karena bagian yang paling atas masih mu-dah dijangkau bila orang harus menyiram, memupuk, maupun memetik hasilnya. “Bisa saja dibuat sampai 2 atau 3 m tingginya, tapi ini, menurut saya, kurang berseni. Selain itu pot mudah roboh kalau ada angin kencang,” tambah Mulyono.

Jarak antara pot yang satu dengan lainnya berkisar 40 -60 cm, tergantung besarnya tanaman. Makin besar tanaman, jaraknya makin jauh. Untuk tanaman seledri, misalnya, jaraknya cukup 40 cm, untuk cabai ± 60 cm.

Porositas media tanam pada pot vertikal harus cukup tinggi. Ini perlu karena berkaitan dengan pemupukan. Pupuk yang sudah dilarutkan secara sempuma dalam air dengan perbandingan 1 g pupuk dengan 1 1 crir diguyurkan dari atas. Dengan porositas yang cukup, pupuk bisa meresap secara merata sampai ke ba-wah. Porositas’yang tinggi bisa dicapai kalau setiap kali melakukan penanaman baru, tanah dibongkar lebih dahulu. Bisa juga setelah 3 kali panen, seperti yang dilakukan Mulyono. Pada saat itu media tanam dicampur lagi dengan pupuk kandang dan sekamdengan perbandingan 1:1-: 1/4.

Media tanam yang bisa digunakan di antaranya, sekam (atau abunya), pasir, atau gambut yang dicampur dengan pupuk kandang dengan perbandingan 1-2:1. Atau campuran tanah dengan pupuk kandang (3 : 1). Bisa pula campuran tanah dengan sam-pah rumah tangga atau campuran tanah, sekam dan pupuk kandang.

Untuk mencegah ancaman cendawan dan sebangsanya, media tanam dibuat steril. Untuk itu media tanam harus disangrai (digoreng tanpa mi-nyak) lebih dulu. Campuran fop soil (tanah lapisan atas yang bisa diambil sampai kedalaman 10-20 cm) dengan pasir halus, pupuk kandang, kompos, dan kapur dimasukkan ke dalam wadah yang cukup besar (untuk keperluan ini Widarto menggunakan drum besar yang di-belah). Lalu, campuran itu disangrai selama 6 – 8 jam sambil diaduk. Setelah dingin baru dimasukkan dalam’ pot. Sedikit repot, tapi tanaman akan tumbuh subur dan sehat.

”Salah satu keunggulan sistem pertanian ala Widarto terletak pada penggunaan tanah steril itu,” ungkap Ir. Budi Suksmadji MS, dosen Fakultas Pertanian UGM.
Menurut Widarto, selain steril media tumbuh harus cukup kandungan unsur haranya, seperti nitrogen, pospor, dan kalium, dengan pH (kadar ke-asaman) 7. Maka tanah perlu diberi pupuk meski tidak semua jenis tanaman memerlukan berbagai jenis pupuk. Tanaman buah, macam cabai dan tomat, misalnya, perlu penambahan pupuk TSP dan KC1, selain pupuk N. Dengan demikian diharapkan tanaman bisa tumbuh baik meskipun ditanam lebih rapat dari yang disyaratkan.

Sebagai media penyemaian bagi benih tanaman yang hendak ditanam, bisa berupa tanah kebun halus atau pasir yang dicampur dengan pupuk kandang dengan perbandingan 2:1. Atau, campuran pupuk kandang, pasir, dan tanah dengan perbandingan 2:2: 1. Ke dalamnya bisa dibubuhkan sedikit furadan dan pupuk NPK

Rp 200 juta/ha

Menurut perhitungan dan pengalaman Mulyono, pada luas lahan yang sama hasil panen tanaman vertikultur bisa mencapai 5 – 6 kali lipat dari cara berkebun konvensional. Hasil terung, umpama-nya, bisa 5 kali, sedangkan selada 6 kali lipat.

Bahkan ada yang mampu mencapai 10x lipat seperti dibuktikan Ir. L. Widarto pada kebun vertikulturnya di Desa Sawit, Purwokerto. “Ini suatu terobosan baru dalam hal pelipatgandaan hasil. Sepuluh kali lipat hasil panen -itu bukan main-main, sungguh mengagumkan dalam dunia pertanian,” komentar Ir. Sutar-di, Ph.D., pembantu dekan III, Fak. Teknologi Pertanian UGM.

Di halaman seluas 10 m2, Ir. Mulyono bisa menanam puluhan tanaman pada pot vertikal setinggi 2 m. Dengan jarak antarpot 60 cm, halaman seluas itu terisi sekitar 25 pot. Kalau saja dalam, satu pot ditanami 10 bibit tanaman cabai, itu artinya terdapat 250 tanaman per 10 m2.

Sedangkan dengan vertikul-tur dempet pada lahan dengan luas yang sama bisa ditanam 1.500 bibit tanaman sawi atau 400 tanaman melon. Dari sejumlah tanaman itu bisa dipanen 3.000 kg sawi atau 1.200 kg melon. “Bukan
cuma jumlah tanamannya yang bisa jauh lebih banyak, tapi juga lebih besar,” tutur Widarto. Hasil itu tentu lebih dari cukup kalau cuma untuk konsumsi sendiri.

Kalau saja cara yang sama diterapkan di lahan kebun seluas 1 ha, hasil panennya bisa mencapai 1.800 ton. Bukan 3.000 ton, karena ada sebagian lahan yang digunakan untuk jalan atau ruangan an-tarrumah-rumahan. Jika harga sawi Rp 200,- per kg, menurut perhitungan Widarto, di atas kertas petani bisa menangguk laba ± Rp 200 juta sekali panen.

Kalau untuk halaman ru-mah yang lebih mementingkan segi keindahan, dan sekadar tambahan keperluan dapur, sistem vertikultur yang. diterapkan Ir. Mulyono mungkin lebih pas. Bila untuk di kebun yang agak luas dan lebih mementingkan soal produktivitas untuk tujuan bisnis, cara Ir. Widarto bisa dipilih. ? (B. Soelist/I Gede Agung Yudana)

budidaya bawang merah dalam polybag (70),Cara menanam bawang merah di pot (56),cara menanam bawang putih dalam pot (43),cara menanam bawang merah polybag (40),cara menanam bawang merah di polybag (40),cara menanam bawang putih di pot (33),vertikultur cabai (31),cara menanam bawang merah dalam pot (31),menanam bawang merah dalam pot (28),pot vertikal (28),menanam bawang putih dalam pot (25),vertikultur (25),menanam bawang dalam pot (24),cara menanam bawang putih di polybag (23),menanam bawang merah di pot (22)

Kode Copy Paste
Gunakan kode diatas untuk copy paste artikel ini di blog anda

Tags: Desa Sawit, halaman, jarak, kebun, NPK, pertanian, pot, tanah, tanam, vertikultur