Home    

Masalah Pengulangan Bahasa Indonesia

Dari Intisari Mei/88 — Ada pertanyaan diajukan kepada saya. Bunyinya begini. ‘Bagaimana kita mengulang kata orang tua: orang-orang tua, orang tua-tua, atau orang tua-orang tua?”

Untuk menjawab pertanyaan itu, baiklah kita jelaskan dahulu kata orang tua itu. Kata orang tua mengandung dua makna, 1) ibu bapak, dan 2) orang yang tua, sebagai lawan orang muda. Karena dua makna yang didukung oleh kata gabung itu, bentuk ulangnya pun memang harus dibedakan. Perhatikan kedua kalimat di bawah ini.

  1. Sekolah itu mengadakan pertemuan antara guru-guru dengan orang- orang tua murid.
  2. Yang boleh menjadi anggota perkumpulan itu hanyalah orang tua- tua.

Dengan penggunaan bentuk perulangan dalam kedua kalimat di atas, jelas kepada kita bahwa orang-orang tua murid berarti ‘para ibu bapak murid’, sedangkan orang-orang tua berarti ’orang yang sudah tua dengan pengertian jamak, banyak’. Perulangan kata tua menjadi tua-tua memang menekankan pengertian tua sebagai sifat lawan muda, tetapi sekaligus juga menyatakan pengertian jamak. Orang tua-tua artinya ‘orang yang sudah tua, bukan orang yang masih muda’, dan mengandung juga arti ‘banyak’.

Ada juga orang yang mengusulkan agar orang tua yang berarti ‘ibu bapak’ diulang seluruhnya yaitu orang tua-orang tua karena kata itu merupakan kata majemuk yang mengungkapkan satu pengertian. Dalam perkembangan bahasa Indonesia yang sangat pesat, harus kita akui ada hal-hal yang “bergeser”, maksudnya menjadi lain dari yang dahulu biasa kita jumpai dalam bahasa Indonesia lama (baca: bahasa Melayu) dan ada

juga perubahan yang terjadi dalam kaidah atau aturan bahasa. Aturan bahasa lama begitu, tetapi dalam bahasa Indonesia sekarang tidak lagi begitu. Sebutkanlah nisalnya penggunaan kata adalah sebagai kata kerja gabung yang menghubungkan subjek dan predikat kalimat. Dahulu dikata­kan Saya guru; Aminah perawat. Sekarang — karena pengaruh bahasa Belanda dan Inggris — dikatakan orang Saya adatah guru; Aminah adalah perawat Dahulu dikatakan Rumah itu diberi berdinding papan; Buku itu diberi bersampui. Sekarang dikatakan Rumah itu diberi din­ding papan; Buku itu diberi sampul (Bentuk diberi ber- sekarang kehilangan ber-)

Begitu juga dengan kata seperti orang tua di atas. Dalam buku tata bahasanya, Sutan Takdir Alisjahbana mengusulkan agar kata-kata gabung dituliskan serangkai. Jadi, orangtua, rumahsakit, saputangan, bahkan kata benda, katakerja, takberes, serbaputih. Namun, usul beliau itu tidak diterima karena menyalahi kebiasaan penulisan kata dalam bahasa Indone­sia. Kalau usul itu diterima, maka semua kata gabung akan diulang seluruhnya: orangtua-orangtua, rumahsakit-rumahsakit, saputangan-saputangan, dsb. Kesulitan yang timbul nanti ialah kalau kata-kata seperti itu panjang. Ulangan kata itu akan menjadi sangat panjang. Ulangan kata itu akan menjadi sangat panjang. Misalnya, kereta api cepat malam bagaimana menulis bentuk ulangnya? Dituliskan kereta api cepat malam- kereta api cepat malam? Alangkah panjangnya! Membaca deretan huruf yang sangat panjang tidaklah mudah!

Aturan atau kaidah yang berlaku dalam bahasa Indonesia (yang berasal dari bahasa Melayu) ialah bahwa kata gabung bila diulang, maka yang diulang itu ialah kata pertama, yang diterangkan. Kata kedua — yang menerangkan — tidak diulang karena menerangkan yang tunggal ataupun yang jamak, sifat itu tidak berubah. Jadi, rumah sakit diulang menjadi rumah-rumah sakit; orang asing diulang menjadi orang-orang asing.

Harus kita akui bahwa dalam bahasa Indonesia sekarang ini, pemakai bahasa senang sekali mengulang kata benda untuk menyatakan pengertian ‘jamak’. Dalam banasa Melayu, pengulangan kala benda menyatakan 1) menyerupai: anak-anakan, orang-orangan. lidah-lidah sepatu; 2) ber­macam-macam, aneka ragam: buah-buahan, kayu-kayuan, tumbuh-tum­buhan. Untuk menyatakan jamak digunakan kata lain seperti semua, segala, banyak. beberapa. Sering juga orang mengulang kata benda untuk menyatakan jamak, padahal pengulangan itu tidak perlu karena kata itu mengandung arti umum, mencakup makna ’semua’.

Contoh: Orang yang melanggar undang-undang akan dihukum.

Kata orang dalam kalimat di atas walaupun tidak diulang sudah mencakup pengertian jamak karena berarti ‘siapa saja’. Kita tidak perlu mengulang kala itu menjadi orang-orang.

Mudah-mudahan jawaban saya ini dapat menjelaskan persoalan bahasa yang diajukan kepada saya itu, yang dilihat pemakai bahasa lain”juga sebagai masalah.

J.S. Badudu

Permasalahan Bahasa Indonesia (53),problematika bahasa indonesia (31),permasalahan bahasa indonesia saat ini (26),masalah bahasa indonesia saat ini (20),makalah permasalahan dalam bahasa indonesia (15),makalah permasalahan bahasa indonesia (11)

Kode Copy Paste
Gunakan kode diatas untuk copy paste artikel ini di blog anda

Tags: anak, arti, bahasa indonesia, Indonesia, pengertian, pengulangan, repetisi, rumah sakit, senang, Sutan Takdir Alisjahbana