Home    

Cara Mencegah Perokok Pemula

Mari Cegah Perokok Pemula | Merokok berbahaya bagi kesehatan, rasanya telah diketahui oleh banyak orang. Namun masih banyak perokok, sehingga dapat disimpulkan, sikap dan perilakunya tidak sesuai dengan pengetahuan yang dimiliki. Prevalensi perokok pada orang dewasa di Indonesia saat ini lebih tinggi dari Thailand, Myanmar, Bangladesh, Nepal, Srilangka dan India (Source STEPS and Global Tobacco Survey). Rokok mengandung kurang lebih 4000 zat dan 200 di antaranya dinyatakan berbahaya bagi kesehatan, antara lain tar, nikotin, carbonmo-noksida. Zat-zat tersebut dapat mengakibatkan berbagai penyakit seperti berbagai jenis kanker, penyakit jantung dan sebagainya.

Menurut WHO, setiap 6,5 detik satu orang meninggal karena rokok. Suatu riset memperkirakan bahwa orang mulai merokok pada usia re-maja (70% perokok mulai pada usia ini) dan terus merokok selama dua dekade atau lebih, akan meninggal 20-25 tahun lebih awai daripada orang yang tidak pernah merokok. Orang yang bukan perokok yang terpapar oleh asap rokok orang lain dapat memperoleh risiko penyakit akibat rokok. Banyak orang tak sadar dirinya teraniaya dengan menjadi perokok pasif yang mendapatkan bahaya sama atau lebih dari perokok aktif.

Mitos Merokok

Perokok, awai mula merokok karena adanya mitos bahwa rokok bisa meningkatkan kreativitas, menghilangkan stres serta membuat jantan seperti yang ditayangkan di iklan. Sedangkan hasil survei Dinas Kesehatan provinsi DIY tahun 2009 menyatakan bahwa alasan untuk merokok adalah kebutuhan untuk kenikmatan, persahabatan, mengurangi stres, menambah konsentrasi dan karena gaya hidup.

Fakta telah menggambarkan cara pandang yang berbeda antara pemerintah, pengusaha dan perokok sendiri. Cara pandang pemerintah yang sering muncul atau dimunculkan karena pendapatan dari cukai, sedang cara pandang pengusaha seperti biasanya untuk meraih tujuan pendapatan dari penjualan produk. Perokok sendiri, karena pengaruh mitos-mitos di atas maka kecenderungan semakin besar untuk tetap merokok atau mulai merokok untuk perokok pemula sehingga di sisi lain akan berakibat memperluas pasar.

Hasil survei Dinas Kesehatan Provinsi DIY tahun 2009, menggambarkan bahwa pengeluaran untuk pembelian rokok cukup tinggi, yaitu 14% dari belanja rumah tangga. Pada tahun 2005, biaya kesehatan yang dikeluarkan Indonesia karena terkait tembakau mencapai 18,1 miliar dolar AS atau 5,1 kali lipat pendapatan negara dari cukai tembakau pada tahun yang sama. Biaya kesehatan di Indonesia yang terkait dengan penyakit kanker misalnya, salah satu akibat karena rokok sangatlah tinggi. Pegawai negeri dan Jamkesmas lebih beruntung ada asu-ransi yang menjamin, walau masih ada pengeluaran lain untuk transpor, penginapan keluarga dan lain lain. Lebih dari 50% penduduk Indonesia terancam ‘kantong kering’ jika menderita kanker atau ‘sadikin’ alias sakit menjadi miskin.

Tragisnya, penderita narkoba yang berperilaku buruk mendapat jaminan pengobatan dari pemerintah, tetapi obat kanker terkena pajak mahal, penderita kanker di luar Askes dan Jamkesmas harus jual harta benda atau mati tanpa bantuan. Semoga mulai Januari 2014 SJSN (Sis-tem Jaminan Sosial Nasional) yakni asuransi Kesehatan Nasional untuk semua penduduk mulai dijalankan.

Hasil Survei di provinsi DIY, usia inisiasi merokok masuk dalam kelompok umur 15-24 tahun (Dinkes Prov DIY, 2005). Sekitar 50% remaja SMAdan 30% remaja SMP pernah mencoba merokok (Dinkes prov DIY, 2008). Dari sejumlah remaja tersebut, 37,5% remaja dapat melepaskan diri dari rokok, 9,3% remaja masih menjadi perokok aktif rutin, di mana 3% merupakan kelompok putri. Prevalensi rumah tangga yang bebas asap rokok hanya sekitar 50%. Sekitar 49,60% dari suami adalah perokok, hanya 0,80% istri adalah perokok, sedang 11% anak adalah perokok. Saat ini sering terlihat ABG (Anak Baru Gede) merokok di tempat umum dengan memakai seragam sekolah. Ini perlu mendapat perhatian karena rasanya makin lama terjadi kecenderungan anak muda perokok makin meningkat.

Survei menghasilkan data bahwa upaya menjaga keluarga untuk tetap menjadi bebas asap rokok dengan urutan paling tinggi dengan cara mengingatkan, melarang, memberi contoh dan meminta bantuan teman. Alasan keluarga untuk tidak merokok, karena alasan kesehatan, pemborosan, kepedulian dan ‘kesopanan. Pemberi saran untuk tidak merokok paling banyak adalah keluarga (57,30%), petugas kesehatan (8,6%), teman 4,30%) kemudian rekan keija (2,7%). Berdasar hasil survei tersebut, maka keluarga dapat menjadi andalan untuk remaja agar tidak menjadi perokok.O – s.

*) IM Sunarsih Sutaryo, Pengurus Yayasan Kanker Indonesia Cabang DIY dan anggota

Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat (IAKMI).

upaya pencegahan merokok (19),cara pencegahan merokok (11),cara pencegahan rokok (10)

Kode Copy Paste
Gunakan kode diatas untuk copy paste artikel ini di blog anda

Tags: DIY, Indonesia, kanker, Mitos Merokok, pemerintah, pendapatan, perokok, remaja, rokok, tembakau