Home    

Analisis Garam Nasional

Keganasan Terhadap ‘Garnas’
Prof Dr M Maksum Machfoedz

BEBERAPA hari lalu bersama Rochmin Dahuri, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan RI, berpanel dalam sebuah lokakarya, membedah krisis garam nasional (garnas). Karena selama beberapa tahun terakhir ini Republik Indonesia semakin terjebak eskalasi importasi sampai 60%. Pada kesempatan tersebut para peserta mendata betapa besamya potensi produksi garnas Negeri Maritim ini baik untuk keperluan konsumsi maupun industri. Untuk dua kepentingan ini panjang pesisir hampir 90.000 kilometer sebetulnya punya potensi teramat kuat dalam menjanjikan segalanya bagi swasembaga garam.

Kesenjangan nyata antara potensi dan realitas importasi tentu menjadi konsentrasi sentral pelomik ‘garnas’. Mulai dari urusan prasarana dan sarana, teknologi produksi, sampai urusan tatania-ga, ternyata garnas memang dianaktirikan dalam pembangunan nasional. Marjinalisasi garnas yang sampai berujung pada parkimya seorang Fadel tentu sangat menarik disimak. Pada ting-kat publik, muncul kecurigaan akan adanya skenario yang berse-ngaja untuk ngurip-urip atau menghidupkan importasi untuk kepentingan jangka pendek.

Mudah sekali memang membangun pembenaran importasi garnas. Data kebutuhan nasional pertahun sekitar 2,2 juta ton terinci dalam 1 juta ton untuk kebutuhan konsumsi dan 1,2 juta ton untuk kebutuhan industri kimia dan industri pangan. Sementara produktivitas domestik hanya 1 juta ton, terdiri dari 700.000 ton garam rakyat dan 300.000 ton produk PT Garam. Defisit statistisnya 1,2 juta ton, Sungguh very big business, rezeki besar. Dengan membesar-besarkan defisit, importasi 1,2 juta adalah penyelamatan Rt dari kiamat.

Semangat importasi untuk kepentingan jangka pendek ini begitu mengham-biru, sampai melupakan kepentingan diri untuk melakukan evaluasi seksama tentang kinerja sistem produksi garnas kita yang sangat menjanjikan ketika dilakukan pembenahan. Pada tingkat prasarana, be-nar sekali bahwa 90.000 kilometer panjang pantai adalah sum-berdaya. Akan tetapi aksesibilitasnya bagi petani ternyata terbatas. Hal ini terjadi karena, in-frastruktur untuk bisa memanfaatkan air laut sebagai bahan baku tidak cukup memadai Faktanya, nyaris segala infras-truktur pengambilan air adalah bangunan air yang kedaluwarsa dan harus diupayakan sendiri oleh petani garam.

Untuk sarana produksi, persoalannya nyaris sama. Petani garam, yang mayoritasnya re-kan-rekan Madura ini, nyaris tidak tersentuh oleh kemudahan
sarana produksi. Sarana-prasa-rana ini adalah dua hal yang secara teknis sangat berpengaruh terhadap produktivitas garnas.

Pada tingkat teknologis, muncul kelakar sinis di kalangan mahasiswa. Air kencing kambing pun akan menjadi garam ketika kering di bawah terik matahari. Hal ini tentu simplifikasi teknologis yang memang tidak canggih-canggih amat. Persoalannya, pengembangan teknologi per-garaman untuk meningkatkan produktivitas, sudah barang tentu bukan kapasitas petani gar-nas. Pendampingan memadai sudah seharusnya dilakukan oleh Negara untuk bisa meningkatkan daya saing teknologis garnas rakyat, termasuk bagaimana meningkatkan kualrtas garnas konsumsi menjadi gar-nas industri.

Yang paling mencekam sebetulnya adalah sistem tataniaga yang ganas terhadap garnas. Seperti disindir oleh kecurigaan publik di depan, bahwa importasi memang sengaja diurip-urip. Kalau syahwatnya adalah importasi, maka tataniaga garnas terjebak tataniaga garam global yang sangat tidak adil.

Ketemunya syahwat importasi para pemilik modal dan penganaktirian pembangunan terhadap petani garnas oleh Negara, adalah tanda-tanda kiamat yang sempurna bagi petani garnas. Pertemuan konspiratif inilah ujung-pangkal segala keganasan mutakhir terhadap garnas.

Sudah barang tentu ketemunya dua hal tersebut harus dihentikan demi tegaknya keadilan Garnas. Kepedulian banyak pi-hak, termasuk rekan-rekan pe-tani garnas Madura dalam mengupayakan hak azazi pembangunan adalah solusinya.
(Penulis adalah Guru Besar TIP FTP UGM, Ketua PB NU)

garam nasional (21)

Kode Copy Paste
Gunakan kode diatas untuk copy paste artikel ini di blog anda

Tags: air, data, Fadel, garam, kencing, Madura, Menteri, Negeri Maritim, pantai, Republik Indonesia, Rochmin Dahuri