Home    

Aktivitas Manusia yang Mempengaruhi Hutan Mangrove

Ketika pemukiman berkembang di daerah pesisir, kolam-kolam air asin dan sungai biasanya digantikan oleh bangunan perumahan, ini akan menggangu ikan-ikan kecil untuk mencari makan akibat makin sempitnya ruang untuk hidup mereka dan pada akhirnya keadaan ini dapat mempengaruhi produksi perikanan. Tanpa aliran air normal dari laut, rawa mangrove ini akan menjadi terlalu asin bahkan bagi mangrove sendiri. Pohon-pohon menjadi mati, dan hanya meninggalkan dataran garam. Tanpa perlindungan dari mangrove, perumahan, jalan, hotel, dan bangunan lainnya menjadi rentan terserang badai.

Daerah rawa merupakan tempat utama bagi peternakan ikan dan udang. Meskipun sebenarnya jumlah total produksi ikan dan udang jauh lebih kecil dari total lahan basah tersebut dalam kondisi normal, dan keuntungannya hanya dinikmati oleh segelintir orang saja. Tetap saja ada keinginan untuk menebang mangrove dan mengubahnya menjadi tambak. Seringkah tambak-tambak ini cepat sekali menjadi asin dan akhirnya terbengkalai dan meninggalkan masalah.

Nasib yang sama juga terjadi ketika manusia menebang mangrove untuk dijadikan lahan pertanian untuk persawahan dengan mengeringkan daerah rawa. Uang dalam jumlah besar telah dikeluarkan, tapi akhirnya lahan menjadi terlalu asin atau terlalu mahal biaya perawatannya karena harus

memompa air keluar dari lahan setiap saat. Keadaan seperti ini bisa berakibat kerugian lebih besar bagi pertanian, karena ketika hutan mangrove dirusak, daerah pelindung akan hilang dan air laut akan mencemari air tanah dan membuat sumur-sumur menjadi asin.

Barangkali karena orang melihat mangrove sebagai lahan terlantar, mereka tidak ragu ketika membuang sampah ke sana. Di banyak kota, sampah ditimbun di daerah rawa. Akibatnya terhadap kehidupan sangat besar. Sam-pah-sampah mengganggu regenerasi tumbuhan dan hewan, mencemari air, dan berbahaya bagi kesehatan. Sampah akan mengganggu dan menggunung di daerah rawa.

Hutan mangrove sebenarnya dapat sangat berguna sebagai tempat pembuangan sampah, sepanjang ia dikendalikan dengan benar. Rawa mangrove dapat menyerap nutrisi dan memurnikan air.

Banyak kegunaan lain hutan mangrove yang dapat berlanjut dalam jangka waktu yang panjang. Beberapa proyek di Malaysia telah mempraktekkan bagaimana mangrove bisa dipanen secara lestari sebagai kayu dan arang dengan penebangan yang selektif dan mengupayakan mangrove untuk tetap tumbuh kembali.

Hutan mangrove juga dapat rusak akibat aktivitas yang kelihatannya tidak berhubungan sama sekali yang terjadi di daerah resapan atau aliran air. Proyek penyaringan air di sumber mata air dan sungai dapat mengurangi jumlah air yang sampai ke daerah rawa. Lumpur dari penebangan hutan dapat juga menumpuk di rawa. Aktivitas semacam ini dapat membuat kering daerah rawa. Daerah rawa yang kering akan sangat mudah terbakar. Kadang-kadang petani sengaja membakarnya untuk memacu pertumbuhan rumput sebagai makanan ternak gembalaan, dan oleh nelayan untuk menghalau ikan ke dalam perangkap. Kebakaran juga bisa diakibatkan oleh petir. Ada juga kebakaran yang merupakan siklus alami ekosistem rawa, tapi jika terjadi terlalu sering keadaan seperti ini dapat menghalangi regenerasi alami pada hutan mangrove.

Tidak semua kerusakan yang terjadi akibat kesengajaan. Seperti tumpahan mi nyak di laut yang dapat menyebabkan kerusakan serius pada hutan mangrove. Minyak menyelimuti akar mangrove sehingga pohon bisa mati. Mangrove membutuhkan lebih dari 20 tahun untuk kembali seperti semula.

merusak hutan bakau (29),artikel dampak aktivitas manusia terhadap ekosistem (14),artikel mengenai dampak aktivitas manusia terhadap ekosistem (10)

Kode Copy Paste
Gunakan kode diatas untuk copy paste artikel ini di blog anda

Tags: air, bangunan, garam, hutan, ikan, mangrove, mengganggu, pertanian, peternakan, sumur